BELANJA ONLINE TERPERCAYA, BOOKING HOTEL ONLINE TERBAIK, BELI BUKU ONLINE, SITUS BELANJA ONLINE BANYAK DISCONT, BOOKING HOTEL ONLINE TANPA KARTU KREDIT, HOTEL MURAH, TIKET PESAWAT ONLINE, PENYEDIA DOMAIN HOSTING BERGARANSI BERKWALITAS

Showing posts with label Buku kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Buku kesehatan. Show all posts

Wednesday, 14 September 2016

Perawatan Dan Penyembuhan Luka Dengan Balutan Luka Modern

Perawatan Dan Penyembuhan Luka Dengan Balutan Luka Modern-Perawatan luka saat ini sedang memasuki era baru dimana sedang terjadi perubahan metode dalam perawatan luka, trend saat ini adalah merawat luka dengan tehnik lembab, dimana berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh 3 orang peneliti dunia sejak tahun 1940 – 1970 dan didapatkan kesimpulan bahwa tehnik perawatan luka dengan tehnik lembab mempunyai banyak kelebihan diantaranya adalah:  1. Laju epitelisasi pada luka yg ditutup oleh poly-etylen 2 kali lebih cepat sembuh disbanding dengan luka yg dibiarkan kering, 2. Merawatan luka lembab tidak meningkatkan infeksi (hanya 2,5%) dibandung dengan meteode perawatan kering (9%).  Berawal dari penelitian2 itulah hingga saat ini telah berkembang balutan luka yang mampu menjaga kelembaban luka atau yang biasa disebut balutan luka modern. Balutan modern adalah balutan luka yang diproses sedemikian rupa yang berfungsi menjaga kelembaban luka dan diharapkan ketika luka dalam kondisi lembab maka proses penyembuhan luka akan berjalan lebih baik.
Balutan modern sudah dikenal didunia sejak awal tahun 1990an namun baru berkembang pesat pada beberapa tahun belakangan ini di Indonesia. Di dunia sudah ada sekitar 3000an lebih jenis-jenis balutan modern dan senantiasa berkembang mengikuti perkembangan teknologi dalam perawatan luka.
Berikut akan diperkenalkan beberapa jenis balutan luka modern:

1.       Hidrokoloid
Hidrokoloid
Mengandung partikel hydroaktif yag terikat pada polimer hydrofobik. Kelebihan akan cairan pada luka akan diserp dan balutan akan berubah menjadi gel.balutan yang berfungsi menjaga kelembaban luka, mempunyai kemampuan menyerap cairan minimal, cocok untuk luka pada fase epitelisasi (warna dasar luka pink), dapat juga digunakan untuk mencegah terjadinya maserasi. Contoh produk: comfeel transparan.


2.       Alginate
Alginate
Balutan luka yang berbahan dasar dari rumput laut, mempunyai kemampuan menyerap cairan luka minimal-sedang, juga mempunyai kemampuan menghentikan pendarahan minimal, cocok untuk luka pada fase granulasi. Contoh produk: Cutimed Alginat, Curasorb.

3.       Hydrogel
Hydrogel
Balutan ini berbahan dasar gliserin, mempunyai kemampuan untuk melunakkan jaringan luka yang telah mati, cocok untuk luka dengan warna dasar hitam/kuning.

4.       Balutan Anti Bakterial
Balutan Anti Bakterial
Balutan ini mempunyai sifat antibacterial, sehingga mampu membunuh/menghilangkan  kuman2 yang ada pada luka, jenisnya puun bermacam-macam ada yg seperti jaring2 dan mempunyai sifat hydrofobik yang kuat sehingga mampu menarik kuman pad luka, contoh: sorbach, ada yg berbentuk serbuk contoh: iodosorb, ada yg berbentuk lembaran yg dicampur dengan alginate, contoh: seasorb, dll.

5.       Foam
Foam
Balutan ini adalah berbahan dasar polyurethane foam mempunyai kemampuan yg sangat besar dalam menyerap cairan luka, cocok untuk luka yang memiliki eksudat yang banyak.

6.       Silver Dressing
Silver Dressing
Balutan yang mengandung silver, mampu menghancurkan koloni kuman dgn baik. Cocok untuk luka yang terinfeksi. Contoh: Acticoat
Demikian adalah beberapa contoh dari sekian banyak balutan yang ada di dunia, yang bila digunakan dengan tepat akan mempercepat proses penyembuhan luka. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai perawatan luka dengan metode balutan luka modern dapat di pelajari di BUKU kesehatan "Perawatan Luka Modern Pada Anak: Disertai dengan Berbagai Macam Studi Kasus Luka Pada Anak [Anik Maryunani]"
Perawatan Luka Modern Pada Anak: Disertai dengan Berbagai Macam Studi Kasus Luka Pada Anak
"Perawatan Luka Modern Pada Anak: Disertai dengan Berbagai Macam Studi Kasus Luka Pada Anak [Anik Maryunani]"

Buku ini bisa anda dapatkan di situs tempat beli buku online terlengkap terpercaya di Indonesia BELBUK.COM
Share:

Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Hasil NOC

PENGERTIAN Diagnosis Keperawatan

Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Hasil NOC-Diagnosis Keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah status kesehatan klien (Carpenito, 2000; Gordon, 1976 & NANDA).

Diagnosis keperawatan ditetapkan berdasarkan analisis dan interpretasi data yang diperoleh dari pengkajian keperawatan klien. Diagnosis keperawatan memberikan gambaran tentang masalah atau status kesehatan klien yang nyata (aktual) dan kemungkinan akan terjadi, dimana pemecahannya dapat dilakukan dalam batas wewenang perawat.
Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Hasil NOC (Edisi 10)

Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Hasil NOC
KOMPONEN DIAGNOSIS KEPERAWATAN

Rumusan diagnosis keperawatan mengandung tiga komponen utama, yaitu :

1.       Problem (P/masalah), merupakan gambaran keadaan klien dimana tindakan keperawatan dapat       diberikan. Masalah adalah kesenjangan atau penyimpangan dari keadaan normal yang seharusnya tidak terjadi.

Tujuan : menjelaskan status kesehatan klien atau masalah kesehatan klien secara jelas dan sesingkat mungkin. Diagnosis keperawatan disusun dengan menggunakan standart yang telah disepakati (NANDA, Doengoes, Carpenito, Gordon, dll), supaya :

Perawat dapat berkomunikasi dengan istilah yang dimengerti secara umum
Memfasilitasi dan mengakses diagnosa keperawatan
Sebagai metode untuk mengidentifikasi perbedaan masalah keperawatan dengan masalah medis
Meningkatkan kerjasama perawat dalam mendefinisikan diagnosis dari data pengkajian dan intervensi keperawatan, sehingga dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan.
2.      Etiologi (E/penyebab), keadaan ini menunjukkan penyebab keadaan atau masalah kesehatan yang memberikan arah terhadap terapi keperawatan. Penyebabnya meliputi : perilaku, lingkungan, interaksi antara perilaku dan lingkungan.

Unsur-unsur dalam identifikasi etiologi :

Patofisiologi penyakit : adalah semua proses penyakit, akut atau kronis yang dapat menyebabkan / mendukung masalah.
Situasional : personal dan lingkungan (kurang pengetahuan, isolasi sosial, dll)
Medikasi (berhubungan dengan program pengobatan/perawatan) : keterbatasan institusi atau rumah sakit, sehingga tidak mampu memberikan perawatan.
Maturasional :
          Adolesent : ketergantungan dalam kelompok

          Young Adult : menikah, hamil, menjadi orang tua

          Dewasa : tekanan karier, tanda-tanda pubertas.

3.      Sign & symptom (S/tanda & gejala), adalah ciri, tanda atau gejala, yang merupakan informasi yang diperlukan untuk merumuskan diagnosis keperawatan.

Jadi rumus diagnosis keperawatan adalah : PE / PES.



PERSYARATAN PENYUSUNAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN

1.       Perumusan harus jelas dan singkat dari respon klien terhadap situasi atau keadaan yang dihadapi

2.      Spesifi dan akurat (pasti)

3.      Dapat merupakan pernyataan dari penyebab

4.      Memberikan arahan pada asuhan keperawatan

5.      Dapat dilaksanakan oleh perawat

6.      Mencerminan keadaan kesehatan klien.



HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MENENTUKAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN

1.       Berorientasi kepada klien, keluarga dan masyarakat

2.      Bersifat aktual atau potensial

3.      Dapat diatasi dengan intervensi keperawatan

4.      Menyatakan masalah kesehatan individu, keluarga dan masyarakat, serta faktor-faktor penyebab timbulnya masalah tersebut.



ALASAN PENULISAN DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.       Memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif

2.      Memberikan kesatuan bahasa dalam profesi keperawatan

3.      Meningkatkan komunikasi antar sejawat dan profesi kesehatan lainnya

4.      Membantu merumuskan hasil yang diharapkan / tujuan yang tepat dalam menjamin mutu asuhan keperawatan, sehingga pemilihan intervensi lebih akurat dan menjadi pedoman dalam melakukan evaluasi

5.      Menciptakan standar praktik keperawatan

6.      Memberikan dasar peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.



PROSES PENYUSUNAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN

1. Klasifikasi & Analisis Data

Pengelompokkan data adalah mengelompokkan data-data klien atau keadaan tertentu dimana klien mengalami permasalahan kesehatan atau keperawatan berdasarkan kriteria permasalahannya. Pengelmpkkan data dapat disusun berdasarkan pola respon manusia (taksonomi NANDA) dan/atau pola fungsi kesehatan (Gordon, 1982);

Respon Manusia (Taksonomi NANDA II) :

Pertukaran
Komunikasi
Berhubungan
Nilai-nilai
Pilihan
Bergerak
Penafsiran
Pengetahuan
Perasaan
Pola Fungsi Kesehatan (Gordon, 1982) :

Persepsi kesehatan : pola penatalaksanaan kesehatan
Nutrisi : pola metabolisme
Pola eliminasi
Aktivitas : pola latihan
Tidur : pola istirahat
Kognitif : pola perseptual
Persepsi diri : pola konsep diri
Peran : pola hubungan
Seksualitas : pola reproduktif
Koping : pola toleransi stress
Nilai : pola keyakinan
2.     Mengindentifikasi masalah klien

Masalah klien merupakan keadaan atau situasi dimana klien perlu bantuan untuk mempertahankan atau meningkatkan status kesehatannya, atau meninggal dengan damai, yang dapat dilakukan oleh perawat sesuai dengan kemampuan dan wewenang yang dimilikinya

Identifikasi masalah klien dibagi menjadi : pasien tidak bermasalah, pasien yang kemungkinan mempunyai masalah, pasien yang mempunyai masalah potensial sehingga kemungkinan besar mempunyai masalah dan pasien yang mempunyai masalah aktual.

Menentukan kelebihan klien
Apabila klien memenuhi standar kriteria kesehatan, perawat kemudian menyimpulkan bahwa klien memiliki kelebihan dalam hal tertentu. Kelebihan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan atau membantu memecahkan masalah yang klien hadapi.

Menentukan masalah klien
Jika klien tidak memenuhi standar kriteria, maka klien tersebut mengalami keterbatasan dalam aspek kesehatannya dan memerlukan pertolongan.

Menentukan masalah yang pernah dialami oleh klien
Pada tahap ini, penting untuk menentukan masalah potensial klien. Misalnya ditemukan adanya tanda-tanda infeksi pada luka klien, tetapi dari hasil test laboratorium, tidak menunjukkan adanya suatu kelainan. Sesuai dengan teori, maka akan timbul adanya infeksi. Perawat kemudian menyimpulkan bahwa daya tahan tubuh klien tidak mampu melawan infeksi.

Penentuan keputusan
–          Tidak ada masalah, tetapi perlu peningkatan status dan fungsi (kesejahteraan) : tidak ada indikasi respon keperawatan, meningkatnya status kesehatan dan kebiasaan, serta danya inisiatif promosi kesehatan untuk memastikan ada atau tidaknya masalah yang diduga.

–          Masalah kemungkinan (possible problem) : pola mengumpulkan data yang lengkap untuk memastikan ada atau tidaknya masalah yang diduga

–          Masalah aktual, resiko, atau sindrom : tidak mampu merawat karena klien menolak masalah dan pengobatan, mulai untuk mendesain perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi untuk mencegah, menurunkan, atau menyelesaikan masalah.

–          Masalah kolaboratif : konsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional yang ompeten dan bekerja secara kolaboratif pada masalah tersebut. Masalah kolaboratif adalah komplikasi fisiologis yang diakibatkan dari patofisiologi, berhubungan dengan pengobatan dan situasi yang lain. Tugas perawat adalah memonitor, untuk mendeteksi status klien dan kolaboratif dengan tenaga medis guna pengobatan yang tepat.

3.     Memvalidasi diagnosis keperawatan

Adalah menghubungkan dengan klasifikasi gejala dan tanda-tanda yang kemudian merujuk kepada kelengkapan dan ketepatan data. Untuk kelengkapan dan ketepatan data, kerja sama dengan klien sangat penting untuk saling percaya, sehingga mendapatkan data yang tepat.

Pada tahap ini, perawat memvalidasi data yang ada secara akurat, yang dilakukan bersama klien/keluarga dan/atau masyarakat. Validasi tersebut dilaksanakan dengan mengajukan pertanyaan atau pernyataan yang reflektif kepada klien/keluarga tentang kejelasan interpretasi data. Begitu diagnosis keperawatan disusun, maka harus dilakukan validasi.

4.     Menyusun diagnosis keperawatan sesuai dengan prioritasnya

Setelah perawat mengelompokkan, mengidentifikasi, dan memvalidasi data-data yang signifikan, maka tugas perawat pada tahap ini adalah merumuskan suatu diagnosis keperawatan. Diagnosa keperawatan dapat bersifat aktual, resiko, sindrom, kemungkinan dan wellness.

Menyusun diagnosis keperawatan hendaknya diurutkan menurut kebutuhan yang berlandaskabn hirarki Maslow (kecuali untuk kasus kegawat daruratan — menggunakan prioritas berdasarkan “yang mengancam jiwa”) :

Berdasarkan Hirarki Maslow : fisiologis, aman-nyaman-keselamatan, mencintai dan memiliki, harga diri dan aktualisasi diri
Griffith-Kenney Christensen : ancaman kehidupan dan kesehatan, sumber daya dan dana yang tersedia, peran serta klien, dan prinsip ilmiah dan praktik keperawatan.


KATEGORI DIAGNOSIS KEPERAWATAN

1.      Diagnosis Keperawatan Aktual

Diagnosis keperawatan aktual (NANDA) adalah diagnosis yang menyajikan keadaan klinis yang telah divalidasikan melalui batasan karakteristik mayor yang diidentifikasi. Diagnosis keperawatan mempunyai empat komponen : label, definisi, batasan karakteristik, dan faktor yang berhubungan.

Label merupakan deskripsi tentang definisi diagnosis dan batasan karakteristik. Definisi menekankan pada kejelasan, arti yang tepat untuk diagnosa. Batasan karakteristik adalah karakteristik yang mengacu pada petunjuk klinis, tanda subjektif dan objektif. Batasan ini juga mengacu pada gejala yang ada dalam kelompok dan mengacu pada diagnosis keperawatan, yang teridiri dari batasan mayor dan minor. Faktor yang berhubungan merupakan etiologi atau faktor penunjang. Faktor ini dapat mempengaruhi perubahan status kesehatan. Faktor yang berhubungan terdiri dari empat komponen : patofisiologi, tindakan yang berhubungan, situasional, dan maturasional.

Contoh diagnosis keperawatan aktual : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan transport oksigen, sekunder terhadap tirah baring lama, ditandai dengan nafas pendek, frekuensi nafas 30 x/mnt, nadi 62/mnt-lemah, pucat, sianosis.

2.      Diagnosis Keperawatan Resiko

Diagnosis keperawatan resiko adalah keputusan klinis tentang individu, keluarga atau komunitas yang sangat rentan untuk mengalami masalah dibanding individu atau kelompok lain pada situasi yang sama atau hampir sama.

Validasi untuk menunjang diagnosis resiko adalah faktor resiko yang memperlihatkan keadaan dimana kerentanan meningkat terhadap klien atau kelompok dan tidak menggunakan batasan karakteristik. Penulisan rumusan diagnosis ini adalag : PE (problem & etiologi).

Contoh : Resiko penularan TB paru berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang resiko penularan TB Paru, ditandai dengan keluarga klien sering menanyakan penyakit klien itu apa dan tidak ada upaya dari keluarga untuk menghindari resiko penularan (membiarkan klien batuk dihadapannya tanpa menutup mulut dan hidung).

3.      Diagnosis Keperawatan Kemungkinan

Merupakan pernyataan tentang masalah yang diduga masih memerlukan data tambahan dengan harapan masih diperlukan untuk memastikan adanya tanda dan gejala utama adanya faktor resiko.

Contoh : Kemungkinan gangguan konsep diri : gambaran diri berhubungan dengan tindakan mastektomi.

4.      Diagnosis Keperawatan Sejahtera

Diagnosis keperawatan sejahtera adalah ketentuan klinis mengenai individu, kelompok, atau masyarakat dalam transisi dari tingkat kesehatan khusus ke tingkat kesehatan yang lebih baik. Cara pembuatan diagnsosis ini adalah dengan menggabungkan pernyataan fungsi positif dalam masing-masing pola kesehatan fungsional sebagai alat pengkajian yang disahkan. Dalam menentukan diagnosis keperawatan sejahtera, menunjukkan terjadinya peningkatan fungsi kesehatan menjadi fungsi yang positif.

Sebagai contoh, pasangan muda yang kemudian menjadi orangtua telah melaprkan fungsi positif dalam peran pola hubungan. Perawat dapat memakai informasi dan lahirnya bayi baru sebagai tambahan dalam unit keluarga, untuk membantu keluarga mempertahankan pola hubungan yang efektif.

Contoh : perilaku mencari bantuan kesehatan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang peran sebagai orangtua baru.

5.      Diagnosis Keperawatan Sindrom

Diagnosis keperawatan sindrom merupakan diagnosis keperawatan yang terdiri dari sekelompok diagnosis keperawatan aktual atau resiko, yang diduga akan muncul karena suatu kejadian atau situasi tertentu.

Contoh : sindrom kurang perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik.



MASALAH KOLABORATIF

            Masalah kolaboratif adalah masalah yang nyata atau resiko yang mungkin terjadi akibat komplikasi dari penyakit atau dari pemeriksaan atau akibat pengobatan, yang mana masalah tersebut hanya bisa dicegah, diatasi, atau dikurangi dengan tindakan keperawatan yang bersifat kolaboratif. Label yang digunakan adalah : Potensial Komplikasi (PK).



MENCEGAH KESALAHAN DALAM MEMBUAT DIAGNOSIS KEPERAWATAN

1.       Tidak menggunakan istilah medis. Jika harus, hanya sebatas memperjelas, dengan diberi pernyataan `sekunder terhadap`.

Ex : mastektomi b.d kanker

2.      Tidak merumuskan diagnosis keperawatan sebagai suatu diagnosa medis

Ex : Resiko pneumonia

3.      Jangan merumuskan diagnosis keperawatan sebagai suatu intervensi keperawatan

Ex : Menggunakan pispot sesering mungkin b.d dorongan ingin berkemih

4.      Jangan menggunakan istilah yang tidak jelas. Gunakan istilah / pernyataan yang lebih spesifik.

Ex : Tidak efektifnya bersihan jalan nafas b.d kesulitan bernafas

5.      Jangan menulis diagnosis keperawatan yang mengulangi instruksi dokter

Ex : Instruksi untuk puasa

6.      Jangan merumuskan dua masalah pada saat yang sama

Ex : Nyeri dan takut b.d prosedur operasi

7.      Jangan menghubungkan masalah dengan situasi yang tidak dapat diubah

Ex : Resiko cedera b.d kebutaan

8.      Jangan menuliskan etiologi atau tanda/gejala untuk masalah

Ex : Kongesti paru b.d tirah baring lama

9.      Jangan membuat asumsi

Ex : Resiko perubahan peran b.d tidak berpengalaman menjadi ibu baru.

10.   Jangan menulis pernyataan yang tidak bijaksana secara hukum

Ex : Kerusakan integritas kulit b.d posisi klien tidak diubah setiap 2 jam.



DOKUMENTASI DIAGNOSIS KEPERAWATAN

1.       Gunakan format PES untuk semua masalah aktual dan PE untuk masalah resiko

2.      Catat diagnosis keperawtaan resiko ke dalam format diagnosis keperawatan

3.      Gunakan istilah diagnosis keperawatan yang ada dalam NANDA ( terbaru : 2007 – 2008 )

4.      Mulai pernyataan diagnosis keperawatan dengan mengidentifikasi informasi tentang data untuk diagnosis keperawatan

5.      Masukkan pernyataan diagnosis keperawatan ke dalam daftar masalah

6.      Hubungkan setiap diagnosis keperawatan ketika menemuan masalah perawatan

7.      Gunakan diagnosis keperawatan sebagai pedoman untuk pengkajian, perencanaan, intervensi dan evaluasi.



Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Hasil NOC-Tujuan Dokumentasi Diagnosis Keperawatan :

1.       Mengkomunikasikan masalah klien pada tim kesehatan

2.      Mendemonstrasikan tanggung jawab dalam identifikasi masalah klien

3.      Mengidentifikasi masalah utama untuk perkembangan intervensi keperawatan.

Diagnosis keperawatan saat ini dapat mengacu ke Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Hasil NOC (Edisi 10) [Judith M. Wilkinson] dengan beberapa revisi diagnosis.

Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Hasil NOC (Edisi 10)
Sinopsis Buku Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Hasil NOC (Edisi 10) [Judith M. Wilkinson]
Gamblang dan ringkas, referensi yang mudah digunakan ini dirancang untuk memberikan akses yang cepat ke informasi yang diperlukan untuk perkembangan rencana asuhan yang individual dan menyeluruh. Dibagi menjadi tiga bagian: Bagian I merupakan pendahuluan menggunakan buku, Bagian II merupakan daftar Diagnosis Keperawatan dengan Hasil dan Intervensi, dan Bagian III merupakan Panduan Kondisi Klinis untuk Menegakkan Diagnosis Keperawatan dan Masalah Kolaboratif.

Daftar Isi


  1.     Pendahuluan
  2.     Komponen dalam Rencana Asuhan Diagnosis Keperawatan
  3.     Bagaimana Membuat Rencana Asuhan Diagnosis Keperawatan
  4.     Rencana Keperawatan
  5.     Panduan Kondisi Klinis untuk Menegakkan Diagnosis Keperawatan dan Masalah Kolaboratif
silahkan peroleh buku ini di situs jual buku online terpercaya di indonesia di BELBUK.COM, klik DISINI
Share:

Search This Blog

Popular Posts

Wikipedia

Search results

http://www.situsbelanjaonline-terpercaya.tk. Powered by Blogger.
Booking.com

Followers